Berawal Dari Ketua Hadrah Tak Datang, Jolang Kini Jadi Pelawak Kondang
Jolang saat melawak di arena pentas wayang kulit. (youtube).
Jolang saat melawak di arena pentas wayang kulit. (youtube).

Bulu – Siapa sangka berawal dari menjadi pemain hadrah, kini menjelma sebagai presenter dan pelawak kondang di Kabupaten Rembang. Yah..begitulah sekilas kisah MC Jolang yang mempunyai nama asli Pujianto, warga Desa Mantingan Kecamatan Bulu.

Jolang menceritakan dulu ketika ada pentas hadrah, kebetulan ketuanya tidak hadir. Ia kemudian dipaksa oleh rekan-rekannya untuk mewakili sebagai pembuka acara. Bermula dari kejadian tersebut, dirinya mulai tertarik menekuni dunia presenter, dengan cara belajar dari tayangan televisi dan mengamati gaya sejumlah MC yang sudah lebih dulu terkenal.

“Karena ketuanya nggak datang, saya didorong temen-temen makili. Waktu itu saat jadi pembawa acara cuma bilang ya dan ok saja. Habis itu saya belajar. Banyak kata-kata MC lain yang saja jiplak, kemudian saya kembangkan, “ kata Jolang tersenyum.

Setelah sibuk dengan jadwal pentas, main hadrah pun  tidak seaktif dulu. Namun Jolang merasa lega, karena seni hadrah hingga saat ini masih terus bertahan di Kabupaten Rembang.

“Hadrah sekarang kan hanya untuk acara-acara tertentu. Tapi bangga hadrah di Kabupaten Rembang tergolong masih eksis, “ imbuhnya.

Ada pengalaman menarik di tengah profesi sebagai pembawa acara. Belum lama ini Jolang memenuhi undangan pentas di Bangkok, Thailand, dalam sebuah pentas seni dan budaya. Kegiatan tersebut digelar oleh perkumpulan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Bangkok. Suasana menjadi semarak, ketika ia bersama rekannya mendendangkan tembang-tembang campursari.

“Dari sini ada 4 orang, semacam kegiatan perkenalan budaya. Luar biasa pokoknya. Penonton full. Soalnya orang Indonesia yang lama kerja di sana ya kangen dengan wayang maupun campursari, “ kenang Jolang.

Pria berusia 44 tahun ini berharap suatu saat nanti Pemerintah Kabupaten Rembang melalui dinas terkait membentuk semacam wadah resmi, guna menyalurkan bakat seni dan budaya. Baginya, proses regenerasi harus terus berjalan.

“Yang ahli make up ya ada salurannya, yang bakat tari disalurkan kemana. Begitu pula presenter. Sekarang ini kan baru sebatas teman sesama teman. Misal si A pengin jadi presenter, belajar sama si B. Belum ada wadah khusus, kita ingin difasilitasi Pemkab, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *